idebisnisku21
Selasa, 22 Maret 2011
Senin, 25 Oktober 2010
Menanam Padi
Negara Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki sumber daya alamnya yang sangat melimpah. Indonesia bersaing dengan Brazil, dan Zaire yang juga memiliki kekayaan alam dengan keanekaragaman yang tinggi. Dunia menyebut indonesia sebagai mega biodiversity country, ironisnya negara kita merupakan pengimpor beras terbesar se-asia tenggara. Resiko usaha seperti banjir, kekeringan, serangan hama, penyakit tanaman harus diantisipasi sebaik mungkin. Masalah terbesar yang dihadapi oleh suatu negara adalah bukan hanya soal kekuatan militernya, tapi juga bagaimana suatu negara itu mampu soal ketahanan pangan nasionalnya.
Budidaya Jamur Tiram Yuk
Saat ini produk olahan jamur tiram sangat menjamur dimana - mana. Rasanya yang mirip dengan daging ayam ini sangat disukai oleh para vegetarian dimanapun. Berdasarkan penelitian, jamur tiram juga memiliki kandungan protein dan karbohidrat yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging sapi, dan rendah kadar lemaknya. Berbisnis jamur tiram tidaklah sulit, modal yang dibutuhkan juga tidak banyak, namun keuntungan yang didapat cukup besar, tanpa memerlukan lahan yang luas bahkan kita dapat mengerjakannya di rumah sendiri, selain itu masa tanamnya cukup singkat selama 40 hari. Mari kita buat kalkulasi sederhana, 1 baglog jamur tiram menghasilkan 0,5 - 0,6 kg dengan modal Rp 1.800/baglog ditambah dengan biaya bahan bakunya seperti serbuk gergaji, dedak, tepung tapioka, dan kalsium (kapur) seharga Rp. 1.000- Rp. 2.000, dan biaya tenaga kerja Rp.100/baglog dipasaran harga terendah jamur tiram laku dijual seharga Rp 7.000/kg dan harga tertingginya mencapai Rp. 15.000/kg. Jadi dengan mengeluarkan modal Rp 4.700 - Rp 5.700/kg kita dapat meraup keuntungan lebih dari 20% setiap kali panen.
Ada 2 faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan tumbuh jamur tiram yang menguntungkan ini. Pertama kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban udara, cahaya matahari, aerasi(sirkulasi udara) dan tingkat keasaman (pH) baglog. Jamur tiram tidak dapat tumbuh di daerah panas, suhu optimal tumbuhnya jamur tiram antara 18-30 derajat celcius. Pulau jawa mendominasi daerah yang cocok untuk budidaya jamur tiram. Kelembaban udara untuk pertumbuhan jamur tiram maksimum 80-90% dapat diukur dengan menggunakan alat higrometer. Kedua faktor nutrisi seperti karbon, nitrogen, vitamin, dan mineral. Serbuk kayu yang mengandung bahan lignin dan selulosa dimanfaatkan sebagai sumber karbon dan nutrisi untuk pembentukan protein di dalam tubuh jamur, sehingga tidak heran jamur memiliki kandungan protein yang setara dengan 1 butir telur ayam kampung. Serbuk kayu yang digunakan juga tidak dapat sembarangan, serbuk kayu yang mengandung minyak dan bertekstur keras (contoh: serbuk kayu pohon jati, dan pohon pinus) tentulah tidak dapat digunakan sebagai bahan dasar pertumbuhan jamur, malahan dengan menggunakan serbuk kayu jenis ini pertumbuhan jamur tiram sangat terhambat. Ada baiknya kita menggunakan serbuk kayu dari pohon karet dan pohon sengon. Dedak dan tepung tapioka merupakan sumber vitamin B1 dan B12 yang digunakan sebagai tambahan suplemen dalam pertumbuhan jamur, dan kalsium (kapur) dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan mineralnya.
Hama dari budidaya jamur tiram adalah tikus, kecoa, cacing, tungau, belatung, lalat, maupun kupu-kupu. Penyakit yang sering menyerang jamur adalah cendawan lain seperti cendawan Mucor, Aspergillus, Penicillium, dan lainnya. Penanganan hama dengan bahan kimia seperti insektisida, fungisida, dan herbisida tidak dianjurkan. Insektisida alami seperti bawang putih atau daun mindi lebih baik digunakan untuk penanganan hama. Selain itu perlu juga dipasang jaring – jaring/ kasa nyamuk yang rapat dan perangkap serangga di setiap sudut – sudut kumbung guna pencegahan terhadap serangan hama. Penanggulangan terhadap penyakit dapat dilakukan dengan menggunakan cairan formalin yang dilarutkan air, alkohol 90% yang disemprotkan ke dalam kumbung. Untuk baglog yang sudah terkontaminasi lebih baik dibuang jauh dari kumbung dan segera dibakar.
Pertumbuhan jamur tiram dibedakan menjadi 2 fase, yaitu fase vegetatif (pertumbuhan miselia) dan fase generatif (pertumbuhan batang tubuh jamur). Pada fase awal pertumbuhan jamur dibutuhkan banyak sekali unsur karbon dengan sedikit cahaya matahari. Sedangkan pada fase generatif jamur membutuhkan banyak unsur oksigen (O2) dan cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi. Dengan berbagai pertimbangan diatas kita dapat merancangkan model kumbung yang tepat untuk budidaya jamur tiram. Pada fase vegetatif kumbung yang dibangun harus tertutup rapat, gelap, dan lembab. Namun ketika memasuki fase generatif kumbung yang dibangun harus terbuka, terkena cahaya matahari, dilengkapi dengan ventilasi udara yang baik. Secara umum kumbung jamur terdiri dari: gudang penyimpanan bahan baku, ruang pengadukan bahan dan sterilisasi, ruang pembibitan dan inkubasi, dan ruang pertumbuhan (growing).
Selain pentingnya membangun kumbung dengan model yang tepat, keberhasilan dalam membudidayakan jamur tiram harus didukung dengan sarana yang dibutuhkan dalam proses pembuatan biakan murni seperti: ruangan yang disterilisasikan dengan alkohol 90%, laminar sederhana, oven, cawan petri, labu Erlenmeyer 250ml, pinset, sprayer, autoklaf, meja, dan rak kecil. Ada beberapa tips sederhana untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya ketika menggunakan laminar yang terdapat lampu UV hindari kontak langsung dengan mata maupun anggota tubuh lainnya karena dapat menimbulkan kanker dalam tubuh. Selain itu para pekerja juga harus menggunakan masker untuk mencegah para pekerja yang alergi terhadap debu serbuk gergaji maupun spora yang bertebaran. Para pekerja yang mengalami alergi akan mudah pusing, batuk-batuk, hingga demam tinggi.
Kebutuhan/ permintaan terhadap jamur tiram akan terus bertambah seiring dengan pengetahuan masyarakat akan manfaat yang dikandung oleh jamur tiram ini. Bahkan kebutuhan jamur tiram di kota- kota besar diatas 3.000 kg/ hari seperti di Singapura, Jepang, Korea Selatan, China, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Sumber data BPS tahun 2008 mencatat bahwa pada tahun 2006 ekspor jamur segar dan jamur olahan masing-masing 4.246.543kg dan 14.104.495kg sedangkan impor jamur segar dan jamur olahan masing-masing 1.284.784kg dan 1.630.710kg. Hal inilah yang membuat peluang budidaya jamur tiram memiliki masa depan yang cerah.
Ada 2 faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan tumbuh jamur tiram yang menguntungkan ini. Pertama kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban udara, cahaya matahari, aerasi(sirkulasi udara) dan tingkat keasaman (pH) baglog. Jamur tiram tidak dapat tumbuh di daerah panas, suhu optimal tumbuhnya jamur tiram antara 18-30 derajat celcius. Pulau jawa mendominasi daerah yang cocok untuk budidaya jamur tiram. Kelembaban udara untuk pertumbuhan jamur tiram maksimum 80-90% dapat diukur dengan menggunakan alat higrometer. Kedua faktor nutrisi seperti karbon, nitrogen, vitamin, dan mineral. Serbuk kayu yang mengandung bahan lignin dan selulosa dimanfaatkan sebagai sumber karbon dan nutrisi untuk pembentukan protein di dalam tubuh jamur, sehingga tidak heran jamur memiliki kandungan protein yang setara dengan 1 butir telur ayam kampung. Serbuk kayu yang digunakan juga tidak dapat sembarangan, serbuk kayu yang mengandung minyak dan bertekstur keras (contoh: serbuk kayu pohon jati, dan pohon pinus) tentulah tidak dapat digunakan sebagai bahan dasar pertumbuhan jamur, malahan dengan menggunakan serbuk kayu jenis ini pertumbuhan jamur tiram sangat terhambat. Ada baiknya kita menggunakan serbuk kayu dari pohon karet dan pohon sengon. Dedak dan tepung tapioka merupakan sumber vitamin B1 dan B12 yang digunakan sebagai tambahan suplemen dalam pertumbuhan jamur, dan kalsium (kapur) dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan mineralnya.
Hama dari budidaya jamur tiram adalah tikus, kecoa, cacing, tungau, belatung, lalat, maupun kupu-kupu. Penyakit yang sering menyerang jamur adalah cendawan lain seperti cendawan Mucor, Aspergillus, Penicillium, dan lainnya. Penanganan hama dengan bahan kimia seperti insektisida, fungisida, dan herbisida tidak dianjurkan. Insektisida alami seperti bawang putih atau daun mindi lebih baik digunakan untuk penanganan hama. Selain itu perlu juga dipasang jaring – jaring/ kasa nyamuk yang rapat dan perangkap serangga di setiap sudut – sudut kumbung guna pencegahan terhadap serangan hama. Penanggulangan terhadap penyakit dapat dilakukan dengan menggunakan cairan formalin yang dilarutkan air, alkohol 90% yang disemprotkan ke dalam kumbung. Untuk baglog yang sudah terkontaminasi lebih baik dibuang jauh dari kumbung dan segera dibakar.
Pertumbuhan jamur tiram dibedakan menjadi 2 fase, yaitu fase vegetatif (pertumbuhan miselia) dan fase generatif (pertumbuhan batang tubuh jamur). Pada fase awal pertumbuhan jamur dibutuhkan banyak sekali unsur karbon dengan sedikit cahaya matahari. Sedangkan pada fase generatif jamur membutuhkan banyak unsur oksigen (O2) dan cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi. Dengan berbagai pertimbangan diatas kita dapat merancangkan model kumbung yang tepat untuk budidaya jamur tiram. Pada fase vegetatif kumbung yang dibangun harus tertutup rapat, gelap, dan lembab. Namun ketika memasuki fase generatif kumbung yang dibangun harus terbuka, terkena cahaya matahari, dilengkapi dengan ventilasi udara yang baik. Secara umum kumbung jamur terdiri dari: gudang penyimpanan bahan baku, ruang pengadukan bahan dan sterilisasi, ruang pembibitan dan inkubasi, dan ruang pertumbuhan (growing).
Selain pentingnya membangun kumbung dengan model yang tepat, keberhasilan dalam membudidayakan jamur tiram harus didukung dengan sarana yang dibutuhkan dalam proses pembuatan biakan murni seperti: ruangan yang disterilisasikan dengan alkohol 90%, laminar sederhana, oven, cawan petri, labu Erlenmeyer 250ml, pinset, sprayer, autoklaf, meja, dan rak kecil. Ada beberapa tips sederhana untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya ketika menggunakan laminar yang terdapat lampu UV hindari kontak langsung dengan mata maupun anggota tubuh lainnya karena dapat menimbulkan kanker dalam tubuh. Selain itu para pekerja juga harus menggunakan masker untuk mencegah para pekerja yang alergi terhadap debu serbuk gergaji maupun spora yang bertebaran. Para pekerja yang mengalami alergi akan mudah pusing, batuk-batuk, hingga demam tinggi.
Kebutuhan/ permintaan terhadap jamur tiram akan terus bertambah seiring dengan pengetahuan masyarakat akan manfaat yang dikandung oleh jamur tiram ini. Bahkan kebutuhan jamur tiram di kota- kota besar diatas 3.000 kg/ hari seperti di Singapura, Jepang, Korea Selatan, China, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Sumber data BPS tahun 2008 mencatat bahwa pada tahun 2006 ekspor jamur segar dan jamur olahan masing-masing 4.246.543kg dan 14.104.495kg sedangkan impor jamur segar dan jamur olahan masing-masing 1.284.784kg dan 1.630.710kg. Hal inilah yang membuat peluang budidaya jamur tiram memiliki masa depan yang cerah.
Langganan:
Komentar (Atom)